Belajar Internet Marketing

Minggu, 16 Desember 2012

Makalah PPMDI : PEMIKIRAN HARUN NASUTION

PEMIKIRAN HARUN NASUTION

Oleh : Nisa
PENDAHULUAN
            Munculnya para pembaharu-pembaharu dalam islam adalah karena adanya ide-ide pembaharuan yang ingin dimunculkan agar islam bisa mendapatkan kejayaannya kembali. Sama halnya dengan Harun Nasution ia hadir juga karena ingin memunculkan ide-idenya yang menurutnya selama ini terjadi kesalafahaman tentang islam itu sendiri.
            Ada beberapa ide pokok tentang pemikiran Harun Nasution  yang kami coba paparkan dalam makakalah ini, yaitu bagai mana islam yang sebenarnya dengan melihat adanya berbagai aspek yang ada dalam islam, penyebab hilangnya kekuatan islam yang pernah dimiliki sebelumnya pada saat keemasannya, serta seperti apa pandangannya tentang akal.

PEMBAHASAN
Biografi Harun Nasution
            Harun nasution dilahirkan dipematang siantar, sumatera utara, 23 september 1919, sejak kecil Harun nasution dikenal gemar mendalami ilmu. Otak nya tergolong encer sementara semangatnya mencari ilmu menjadi spirit utama hidupnya. Bahkan diusianya yang setengah abad ia belum punya runah justru karena kecintaannya mendalami ilmu dinegeri orang. Besar dipematangsiantar, guru besar filsafat islam ini adalah putera keempat Abdul Jabbar Ahmad, ulama, pedagang, hakim sekaligus penghulu dikota itu. Ibunya adalah seorang keturunan mandailing, tapanuli selatan, menguasai bahasa arab karena pernah bermukim dimekkah.
            Karena pengaruh komunis kuat diindonesia, Harun yang anti komunis memutuskan untuk keluar dari kedutaan. Kedua kalinya, ia kemesir untuk melanjutkan studinya, Harun memilih belajar dilembaga Ad-Dirasat al-islamiyah (1960). Studinya dimesir lagi-lagi tak dapat diteruskan akibat kekurangan biaya, ketika itu ia menerimatawaran dari Prof. Rasjidi  orang yang kemudian menjadi partner polemiknya dibidang pembaharuan dan pemikiran islam untuk menerima beasiswa dari institute of islamic studies Mc Gill, monterial, kanada. Pada 1965, harun memperoleh gelar magister dari universitas tersebutdengan judul tesis yang masih dekat dengan sejarah tanah airnya: The Islamic State In Indonesia: The Rise Of Theology, The Movement For Its Creation And The Theory Of The Masyumi. Tiga tahun berikutnya ia memperoleh gelar Doktor pada bidang studi islam pada universitas yang sama. Setahun kemudian (1969), ia kembali keindonesia, berbagai jabatan pernah ia pegang, baik akademis maupun pemerintah.
Islam dalam pengertian yang sebenarnya
            Harun Nasution hadir sebagai sosok yang banyak melontarkan keritik terhadap pemahaman tradisi keagamaan yang ada, keritikan ini banyak dilontarkan diantaranya pada buku yang ditulisnya yaitu “islam ditinjau dari berbagai aspek”
Menurutnya  masyarakat indonesia keliru, islam terkesan sempit hal ini karena salah pengertian tentang hakekat islam, seharusnya islam dikenal secara utuh, tidak terpotong-potong sehingga ia terlihat sangat luas dan kesan ini harus dihilangkan/dipunahkan.
Tentang paham islam yang sempit itu, Harun Nasution menulis dalam pendahuluan buku itu:
 “Dikalangan masyarakat indonesia terdapat kesan bahwa islam bersifat sempit, kesan itu timbul dari salah pengertian tentang hakekat islam. Kekeliruan faham ini terdapat bukan hanya dikalangan umat bukan islam, tetapi juga dikalangan umat islam sendiri, bahkan juga dikalangan sebagian agamawan-agamawan islam.
Kekeliruan faham ini terjadi karena kurikulum pendidikan agama islam yang banyak dipakai diindonesia ditekankan pada pengajaran ibadat, fikih tauhid, tafsir, hadist dan b.arab. oleh karena itu islam hanya dikenal dari aspek ibadat fikif dan tauhid saja dan itu pun ibadat, fikih, dan tauhid biasanya hanya diajarkan hanya menurut satu mazhab dan aliran saja. Hal ini memberi pengetahuan yang sempit tentang islam.
Dalam islam sebenarnya terdapat aspek-aspek selain dari tersebut diatas seperti aspek teologi, aspek ajaran spirituil dan moral, aspek sejarah, aspek kebudayaan, aspek politik, aspek hukum, aspek lembaga-lembaga kemasyarakatan, aspek misticisme dan tarekat, aspek filsafat, aspek ilmu pengetahuan dan aspek pemikitan serta usaha-usaha pembaharuan dalam islam”
            Dalam kutipan diatas Harun Nasution ingin menunjukkan bahwa islam tidak sempit bahkan sangat luas sekali. Inilah islam yang sebenarnya islam dalam berbagai aspeknya, ia sendiri sangat mengakui bahwa untuk mengetahui islam yang seperti itu tidak mudah, menghendaki masa yang panjang dan usaha yang kuat. Mungkin orang akan menghabiskan semua umurnya untuk mengetahui itu, dan itu memang tidak perlu, yang diperlukan hanyalah mengetahui aspek-aspeknya dan aliran-aliran itu dalam garis besarnya, sebagai dasar pengetahuan yang demikian sudah cukup, kemudian barulah orang mengadakan spesialisasi dalam bidang teologi, filsafah dan tasawuf, spesialisasi dalam bidang hukum, spesialisasi dalam bidang sejarah kebudayaan dan sebagainya.
Aspek-aspek dalam islam
Dalam aspek ibadah yaitu menurutnya manusia dalam islam tersusun dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani, pendidikan jasmani harus disempurnakan dengan/latihan pendidikan rohani. Dan dalam islam ibadatlah yang memberikan latihan rohani yang diperlukan manusia itu, tujuan ibadat dalam islam bukan untuk menyembah tapi mendekatkan diri kepada Tuhan. Pendekatan ini agar roh manusia senantiasa mengingat hal-hal yang bersifat suci dan bersih dan roh yang bersih/suci membawa kepada budi pekerti yang baik dan luhur.  
Dalam perkembangan hukum ia membagi kedalam empat periode yaitu:
·        Periode Nabi
·        Periode sahabat
·        Periode ijtihad serta kemajunnya
·        Periode taklid serta kemundurannya
Dalam aspek teologi,  dalam islam aspek politiklah  yang berkembang menjadi aspek teologi. Menurutnya islam tidak hanya mempunyai satu aliran ada yang bercorak liberal, yaitu aliran yang banyak memakai kekuatan akal disamping kepercayaan kepada wahyu dan ada pula yang bersifat tradisonil, yaitu aliran yang sedikit sekali menggunakan  akal dan banyak bergantung pada wahyu.  Dan Kesemua  aliran yang ada dalam islam ini, sama halnya dengan mazhab hukum islam yaitu tidak keluar dari ajaran islam semua masih dalam lingkungan islam. Karena itu orang islam mempunyai kebebasan memilih aliran teologi yang menurutnya sesuai.
            Sejalan dengan penampilan islam dalam pengertian yang sebenarnya itu, Harun Nasution mempertanyakan kembali al-qur’an dan hadist sebagai sumber utama ajaran islam, maksudnya yaitu apakah al-qur’an mencakup segala-galanya dan hadist seluruhnya berasal nabi.
            Menurutnya al-qur’an tidak mencakup segala-galanya dan tidak menjelaskan segala masalah kehidupan manusia, baik itu masalah kemasyarakatan maupun iptek, lebih jauh lagi Harun Nasution juga menjelaskan al-qur’an yang terdiri dari 6360 ayat, lebih banyak mengandung ketentuan tentang iman, ibadat dan hidup kemasyarakatan manusia dan sangat sedikit mengandung ilmu pengetahuan dan fenomena alam
            Berkaitan dengan hal tersebut diatas, Harun Nasution juga menjelaskan bahwa ayat-ayat al-qur’an ada yang qath’iy al-dilalah dan adapula yang zhanniy al-dilalah. Selain itu hadits juga mengandung masalah qathiy[1] dan zhanny[2] tentang dilalahnya. Karena hadist tidak dihapal seperti al-qur’an serta tidak dicatat dari semula, tidaklah diketahui secara pasti mana hadis yang betul-betul dari nabi dan manapula hadist yang dibuat-buat, Harun Nasution menulis Tidak ada kesepakatan kita antara umat islam tentang keorisinilan semua Hadits dari Nabi. Jadi berlainan dengan ayat Al-qur’an yang semuanya diakui oleh semua umat islam adalah wahyu yang diterima Nabi dan kemudian beliau teruskan pada umatnya, dalam keorisinalan Hadits terdapat perbedaan antara umat islam. Oleh karena itu kekuatan Hadits sebagai sumber-sumber ajaran islam tidak sama dengan kekuatan Al-qur’an.
Pemahaman tentang apa itu Al-qur’an (dengan teks qath’iy dan zhanny al-dilalah) serta hadis yang diperselisihkan keorisinalannya dari nabi kecuali yang mutawatir tetapi jumlahnya sedikit, jelas membuka kelonggaran dalam pemahaman islam, yang selama ini terasa sangat sempit. Ini berakibat kepada pembenaran semua hasil ijtihad, selama itu tetap berdasarkan al-qur’an dan hadist. Perbedaan yang terjadi dalam hasil ijtihad semuanya masih dalam kebenaran.
Itu sebabnya Harun Nasutian menyodorkan pendekatan vertikal terhadap perbedaan yang banyak itu, bukan pada pendekatan horizontal. Dengan pendekatan vertikal, karena sumber dari perbedaan tersebut adalah sama yakni al-qur’an  dan hadits, maka semua itu tetap berada pada kebenaran, kendatipun berbeda penafsiran dan perincian. Dengan pemikiran seperti ini memperlihatkan bahwa ajaran islam itu sangat luas, setiap orang dapat memilih salah satu aliran atau mazhab yang sesuai buat dirinya. Mazhab dan aliran itu baik dalam bidang tauhid maupun ibadat hukum maupun pada bidang lainnya.
Kedudukan Akal         
Dalam  tulisannya Harun Nasution terlihat sekali kekagumannya pada Muhammad Abduh dan teologi rasional mu’tazilah. Ia menganggap bahwa teologi Muhammad Abduh banyak persamaanya dengan teologi Mu’tazilah walaupun juga terdapat pebedaan.  Menurutnya hanya dalam teologi Muhammad Abduh dan Mu’tazilah, manusia akan dapat menjauhi hidup kemasyarakatan yang kacau, walaupun tanpa turunnya wahyu. Karena akal selain dapat membedakan yang baik dan buruk juga dapat mengetahui bahwa manusia wajib berbuat baik dan menjahui perbuatan jahat.
            Selain  itu dalam berbagai tulisannya Harun Nasution menghubungkan akal dengan wahyu dan lebih tajam lagi melihat fungsi akal itu dalam pandangan Al-quran yang demikian penting dan bebas. Menurutnya pemikiran-pemikiran itu adalah hasil akal manusia, manusia yang tidak bersifat ma’sum (tidak bisa berbuat salah), dengan kata lain penafsiran atau interpretasi  ulama-ulama, tegasnya ajaran-ajaran yang bukan dasar itu, tidak mempunyai sifat mutlak.
Kemunduran islam diindonesia 
            Menurut Harun Nasution dalam bukunya yaitu Pembaharuan dalam islam: sejarah pemikiran dan gerakan bahwa  “perkembangan pemikiran dan gerakan pembaharuan dimesir, turki dan india-pakistan dapat dilihat bahwa kesadaran akan kelemahan dan kemunduran umat islam timbul pada diri-diri pemimpin setelah adanya kontak langsung dengan dunia barat di abad ke-18 dan abad ke-19 yang lalu, adanya kontak itu membuat mereka dapat mengadakan perbandingan antara dunia islam yang sedang menurun dan dunia barat yang yang sedang menaik. Kesadaran bertambah lagi setelah beberapa negara islam dapat ditundukkan barat kebawah kekuasaan mereka.
            Keadaan itu mendorong pemimpin-pemimpin islam untuk menyelidiki sebab-sebab yang membawa kemunduran dan kelemahan umat islam dan selanjutnya memikirkan jalan yang harus ditempuh untuk mencapai kemajuan dan kebahagiaan.”
Menurutnya yang menjadi penyebab kemunduran umat islam indonesia adalah asy’arisme[3] yang sangat bersifat jabariah (terlalu menyerah kepada takdir)[4]. Ini terlihat pada tulisan yaitu: “Dalam pada ajaran itu ajaran jabariah yang terdapat dalam teologi islam mulai pula mempunyai pengaruhnya kepada umat islam Abad pertengahan. Ajaran tawakal yang dibawa tarekat sufi menghilangkan dinamika umat islam, dan sebagai gantinya timbullah sikap pasif dikalangan umat”.
Dan obsesi Harun Nasution yang sangat menonjol yaitu bagaimana membawa umat islam indonesia kearah rasionalitas dan bagaimana agar kalangan umat islam indonesia tumbuh pengakuan atas kapasitas manusia qadariah.

PENUTUP.
Dalam buku-bukunya Harun Nasution menyodorkan banyak aspek-aspek dalam islam, selain aspek-aspek yang sering disebutkan(aspek ibadah, fikih dan tauhid) aspek-aspek itu diantaranya aspek hukum, aspek teologi, dan aspek-aspek lainnya. Adanya aspek-aspek ini  menunjukkan bahwa islam yang sebenarnya adalah islam yang cakupannya sangat luas.
            Selain aspek-aspek diatas, dalam buku-bukunya juga terlihat sekali kekagumannya kepada salah satu tokoh pembaharu yaitu Muhammad Abduh. Sama halanya dengan tokoh yang dikaguminya itu, ia juga mendudukan akal dengan keduakan yang tinggi. Menurutnya kedinamisan hukum islam yang pernah terjadi karena adanya taklid/tertutupnya pintu ijtihad. Dan agar kemajuan dapat tercapai pintu ijtihad harus dibuka kembali. Karena hasil ijtihad sebelumnya merupakan penyelesaian pemasalahan yang berbeda dengan kondisi zaman sekarang.

DAFTAR PUSTAKA
Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya jilid I, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1985)
Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya jilid II, (Jakarta: Universitas Indonesia press, 1986)
Harun Nasution, Muhammad Abduh dan teologi rasional mu’tazilah, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1987)
Harun Nasution, Pembaharuan dalam islam sejarah pemikiran dan gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975)


[1] Qathiy (teks yang tidak di interpretasikan lagi kepada arti lain, selain arti harfiyahnya / artinya sudah jelas)
[2] Zhanny (teks yang boleh mengandung arti lain selain dari arti harfiyahnya)
[3] Teori al-kasb asy’ari yaitu segala sesuatu terjadi dengan perantara daya yang diciptakan, sehingga menjadi perolehan bagi muktasib yang memperoleh kasab untuk melakukan perbuatan, sebagai konsekuensi dari teori kasab ini manusia kehilangan keaktifan, sehingga manusi bersikap pasif dalam perbuatannya.
[4] Aliran jabariah ada dua: yang pertama jabariah ekstrim menurutnya  bahwa segala perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri tetapi perbuatan yang dipaksakan atas dirinya, misalnya kalau seorang mencuri, perbuatan mencuri bukanlah terjadi atas kehendaknya, tapi timbul karena qada dan qadar Tuhan yang menghendaki. Yang kedua jabariah moderat berpendapat bahwa Tuhan menciptakan perbuatan manusia, baik perbuatan jahat maupun perbuatan baik tapi manusia mempunya peranana didalamnya. Tenaga yang diciptakan dalam diri  manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. Inilah yang dimaksud kasab (menurut paham kasab manusia tidak majbur/dipaksa oleh Tuhan), tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia itu memperoleh perbuatan yang diciptakan Tuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar