Thursday, August 15, 2013

Psikologi Perkembangan : Teori Perkembangan Jiwa


Psikologi Perkembangan

Oleh : Dzikri Zulkarnain

TEORI JIWA PERKEMBANGAN
1.   Teori nativisme (semua kenyataan itu timbul dari perkembangan sifat-sifat pembawaan individu) dan juga
      pendapat sebalikny, ialah pendapat empirisme (semua pengalaman jatuh pada dasar yang kurang tentu
      dan menetapkansendiri apa yang akan terjadi selanjutnya).     
2.  Kita harus mementingkan sifat-sifat yang telah didapat dengan menyelidiki berulang-ulang anak yang sama tetapi dengan mengingat jangan sampai terjadi suatu hasil yang ragu-ragu. Latihan atau kebiasaan pada anak itu akan dapat merubah hasil-hasil penyelidikan. Penyelidikan-penyelidikan semacam itu telah mempunyai inteligensi yang dites yang boleh dikata sama.
3.   Gejala-gejala perkembangan kejiwaan ada 3 bagian :
      1.  Yang bersifat biologis
     2.  Yang terutama bergantung pada pengaruh-pengaruh keliling yang memusat sedang anak relatif tinggal pasif
   3. Penemuan-penemuan yang dilakukan anak dalam keadaan kelilingnya, sedang ia terutama aktif (misalnya : bahasa, cara jalan tegak)
    Jadi, suatu perkembangan kejiwaan yang dilukiskan, sebagian besar tidak tergantung dari sifat-sifat biomekanis yang telah tersesia dan sifat-sifat yang berkembang karena pemeliharaan dan lindungan.
4.  Prof.Kohnstamm dalam bukunya :”Leeboek der psychologie”membedakan dua masa pemberontak, yaitu masa pubertas pertama dan kedua. Pubertas pertama antara 3 sampai 7 tahun dan pubertas kedua antara 14 sampai 18 tahun.
a. Antara 3 dan 7 tahun.
        Pada masa antara usia 3 dan 7 tahun anak sadar akan kekuatannya sendiri. Akibat kesadaran itu ialah ia menghendaki, bahwa orang menuruti kemaunnya. Ia merasa berkuasa dan meraja.
b.   Antara 14 dan 18 tahun.
        Pubertas kedua dinamakan juga tahun-tahun akil balig. Masa itu merupakan masa peralihan antara hidup dalam keluarga dan masyarakat. JJ.Rouseau menamakan masa itu”masa kelahiran kedua” yang mempunyai tanda-tanda bahwa pemuda-pemudi mempunyai minat yang subjektif terhadap hidup kemasyarakatan.
     Yang dimaksud dengan pubertas kejiwaan, ialah fase diman anak menyiapkan bathinnya untuk menghadapi soal-soal hidup manusia dalam dunia ini.
5. Anak membutuhkan ksih sayang tertentu. Jika anak mengalami kekurangan kasih sayang, maka perkembangan anak menjadi tidak baik. Ada 4 sifat pokok perkembangan kejiwaan :
a.       saat Biologis
b.      Azas kebutuhan pertolongan
c.       Azas keamana
d.      Azas eksplorasi
6.   Anak masih sangat membutuhkan dunia perasaanya. Kesan-kesan perasaan mempunyai arti yang penting bagi anak. Perasan-perasaan yang mengesankan pola perasaan pada anak, yang akan mensifatkan sifat anak dalam hal ini trhadap dunia.
7. Azas eksplorasi adalah suatu contoh baik, bagaiman dalam asas itu tercantum bermacam-macam dinamisme, yang kemudian dapat dibedakan dengan baik. Anak yang aman akanmenerima dunia dengan baik, akan menyongsong benda dan manusia, menjumpai mereka, memperlakukan mereka, mengalami keadaan mereka dengan hati yang terbuka dan belajar mengenal keadaan mereka itu.
   Dalam azas eksplorasi terletak pila azas lain yang telah tersedia secara genetis yaitu, bahwa anak mempunyai kehendak sendiri untuk menjadi seorang (azas emansipasi).
8. Tiap binatang mempunyai dunianya sendiri-sendiri, sesuai dengan instink-instinknya dalam dunia itu benda-benda ditetapkan menurut arti atau tidak berarti. (Orang menyebut ‘Umwelt” binatang) dalam bahasa Indonesia diartikan dengan”dunia tetap”. Karena binatang itu mempunyai dunia tetap, ia hanya memerlukan masa muda yang singkat saja, dan boleh dikata hanya dapat belajar sedikit. karena manusia mempunyai masa muda panjang, dan ternyata dapat mempelajari banyak hal, maka dengan sendirinya timbul sangkaan, bahwa manusia tidak mempunyai dunia tatap semacam yang terdapat pada binatang, malahan sebaliknya ia selalu menerobos dunia yang telah dimilikinya. Manusia selalu menerobos kelilingnnya yang konkrit. Inilah perbedaan hakiki antara manusia dan binatang.        
9.  Disini terletak ketetapan pertama pada batas tertentu yang dibutuhkan anak, yaitu koreksi yang terus menerus terhadap kekurangan biologisnya. Jadi dengan demikian maka, disamping kekurangan biologis ini masih terdapat dua hal tetap lainnya : harapan akan penambahan bilologis itu, karena teratur dan pastinya peristiwa ini terjadi pembentukan kebiasaan yang pertama. Masih ada lagi ketetapan-ketetapan bagi manusia selain yang disebut diatas. Yang pertama ketetapan masyarkat manusia, kedua ialah ketetapan sistim-sistim yang menguasai lapangan luar dari segala sesuatu yang merupakan objek bagi manusia.
10. Kehidupan masyarakat manusia mempunyai kebiasaan-kebiasaan, adat istiadat, pembagian menurut jenis kelamin, umur, pekerjaan. Masyarakat mempunyai bentuk-bentuk yang teratur. Kehidupan masyarakat manusia sebagian ditentukan dalam bentuk-bentuk keluarga, sekolah, gereja, pemerintahan. Tetapi ada pula bentuk yang sifatnya berlainan dari bentuk diatas, misalnya adat istiadat dan kebiasaan kuno, hukum, perjanjian, teori, metode, ilmu pengetahuan. Semuanya ini harus diketahui oleh anak, sebagian besar hal itu dapat berhasil, bila anak itu sendiri turut mengambil bagian dalam hal serupa itu, ia harus membuat dan memikirkanya, ia harus menemukan sendiri sendiri prinsip alat-alat manusia yang sangat penting, misalnya bahasa, mempergunakan alat-alat kerja, cara-cara berpikir tertentu misalnya berhitung.
11. Menemukan prinsip sebuah alat kerja pada umumnya dapat dipelajari oleh anak-anak yang berumur kurang lebih 6 tahun. Bila melihat dari sudut mereka yang mengetahui prinsip-hubungan-hubungan mekanis antara obyek-obyek, maka pebuatan dengan balok itu tidak ada artinya sama sekali. Tetapi jika dilihat dari sudut alat-alat yang dimiliki si anak yang sebagian besar masih tergantung pada penggunaan ala-alat kekuatan yang organis (menjangkau, menarik, mengangkat, meletakkan, menggeserkan, menggulingkan, dan sebagainya) maka perbuatan tersebut di atas besar artinya.
12. Sifat dasar perkembangan kejiwaan yang sangat penting ialah lama setelah anak menemukan bahasa dan dengan demikian tidak lagi bergantung pada hubungan konkrit dengan benda-bendanya sendiri.         Prinsip diferensial (membeda-bedakan) tingkatan yang genetis, artinya dari suatu stadium dengan kemungkinan-kemungkinan kelakuan yang hampir tak tampak batas-batasnya, timbul sebuah stadium dengan kemungkinan- kemungkinan primitifnya tetap tinggal dan sering kali memperihatikan prestasinya sendiri, hingga tercapai satu stadium, dimana orang lebih suka bergerak kelapisan kelakuan  yang tertentu (misalnya lapisan teoritis) W.Stern berpendapat ada 4 fase dalam pertumbuhan anak.
   1.  Tingkatan mengenai benda-benda (sampai umur 8 tahun). Dalam serapannya anak menerima kesan keseluruhan dari pada apa yang dihadapinya. Kesan keseluruhan yang lengkap ini serba tidak jelas.
Pada tingkatan itu yang nampak dengan nyata hanyalah beberapa benda, manusia dan hewan.
2.    Tingkat mengenal perbuatn-perbuatan (umur 8-9 tahun). Pada masa itu anak menaruh perhatian besar terhadap perbuatan-perbuatan manusia dan hewan.
      3.  Tingkatan mengetahui hubungan-hubungan (9-10 tahun). Anak mulai mengetahui hubungan waktu dan tempat, juga hubungan antara sebab akibat.
    4.  Tingkatan mengenal sifat-sifat (12-14 tahun). Dalam tingkatan ini anak mengadakan analisa tentang penyerapannya, sehingga mengenal sifat-sifat benda, manusia dan hewan. Masa ini disebut juga masa subyektif.
13. Dalam kehidupan komuikasi terbuka, anak merupakan sisi balik dari aas eksplorasi. Anak telah masuk dunia itu, secara teratur memilih, beberapa lapangan-lapangan tertentu dalam dunia itu. Dengan demikian kemungkinan untuk mengalami untung malang (vontuur)tidak akan lenyap, tetapi dari eksplorasi itu timbul dua macam kemungkinan. Pertama, eksplorasi itu dapat berubah menjadi perhatian dan berakhir pada penuntutan pengetahuan secara sistematis, yaiu pada latihan bentuk-bentuk penguasaan teknis. Kedua, bahwa eksplorasiitu tetap mempunyai sifat menular kepada dunia dalam bentuk permainan.
         Disebut dengan permainan anak ialah pergaulan dengan dunia asing, yang kadang-kadang berbuat begitu terhadap anak manusia yang masih muda (yang belum banyak pengalamannya, yang tak beratur).
14. Permainan adalah bentuk ekplorasi dunia yang bersifat kanak-kanak. Berlawanan dengan perkerjaan karena terikat oleh hasil yang ditentukan oleh waktu penyelesaian dan tujuannya, dan mendapatkan hasil.
15. Bahasa, sebagai suatu contoh yang ditemukan anak. Pertama memandang bahasa sebagai kemungkinan untuk dapat mengadakan hubungan dengan sesama manusia dalam masyarakat.
    Bahasa juga dipandang sebagai alat untuk menguasai kenyataan dengan cara lain dari pada bergaul dengan benda-benda saja. Anak lahir dalam sebuah dunia yang memiliki bahasa dan akan dipergunakan untuk keperluannya. Karena itu anak diarahkan kepada manusia sebagai pengalaman yang mempunyai arti menentukan.
16. Ekpresi diri anak dapat dilihat dalam apa yang dinamakan” menggambar” dari anak. Tetapi kita tidak boleh melepaskan apa yang disebut menggambar ini yaitu ekpresi diri grafis, dari pernyataan diri anak dalam keseluruhannya.
      Beberapa ahli ilmu jiwa anak seperti, Corado Ricci (1887) dan Kerschensteiner serta Sully (1896) telah mempelajari gambaran anak sebagai alat melahirkan fikiran dan perasaan. 
      Gambaran anak dapat dibedakan dalam 5 bagian yang berhubungan dengan masa pertumbuhannya.
      1.   Masa coreng loreng (kurang lebih 3 tahun)
      2.   Masa skema (3-7 tahun)
      3.   Masa bentuk garis (7-9 tahun)
      4.   Masa bentuk banyang-banyangan (9-10 tahun)
      5.   Masa persperktif (10-14 tahun)
17. 1. Makin dekat kita pada kelahiran, makin erat perkembangan kejiwaan terlihat pada perkembangan kejasmanian dan makin berkurang tergantungnya perkembangan kejiwaan pada pengaruh-pengaruh pendidikan mengaenai pada beberapa sifat fase kasar, makin mudah pula kita mempergunakan istilah-istilah karakteristik semacam itu.
     Masa dari umur 5-9 tahun, atau dari umur 4-8 tahun maka ia sangat menggantungkan diri pada faktor-faktor keliling. Masa ini disebut masa egosentris atau masa oedipal.
    2. Masa dari 16-24 tahun disebut dengan year of youth. Pada setiap pembagian tentu saja sifat-sifat individu juga memegan peranan.
18. Anak muda mulai hidupnya dalam suasana yang sangat memerlukan bantuan, bahkan dalam peristiwa makan, yang telah dipersiapkan untuknya secara instintif dan reflektoris, ia harus menyesuaikan diri dengan keadaan khusus. Mulai bekerjanya fungsi-fungsi tubuh ini dan belajarnya anak dalam tingkat primitif itu sendiri adalah suatu peristiwa penting dalam kehidupan anak muda itu. Disinilah letak permulaan perkembangan kejiwaan.
19. Fase sebelum bahasa disebut infas.
      Gejala                                                                    waktu
         1.      Menangis, bersin, menghisap                      : hari pertama
         2.      Tersenyum kepada seseorang                     : minggu ke 6-8
         3.      Tertawa                                                     : minggu ke 9-14        
         4.      Gerakan-gerakan kepala dan mata untuk
                  Mengikuti sebuah benda                            : bulan ke 2-3
         5.      Mengangkat kepala untuk beberapa waktu
                  Dan melihat keliling                                    : bulan ke 3-4
         6.      Bermain dengan tangannya sendiri              : minggu ke 14-16
         7.      Mengikuti dengan matanya tangannya
                  Sendiri                                                      : bulan ke 4-5
         8.      Menjalankan kepala pada sebuah benda
                  Yang dilihat                                               : bulan ke 5-6
9.            Makan makanan yang keras untuk pertama
Kali                                                           : bulan ke 6-12
         10.    Untuk sesat duduk sendiri                          : bulan ke 7-8
         11.    Pemempatan ibu jari didepan jari lain          : bulan ke 7-8
         12.    Percobaan merangkak                               : bulan 9
         13.    Peniruan perkataan                                    : bulan ke 10-12
         14.    Berdiri sendiri                                            : bulan ke 10-17
         15.    Berjalan sendiri                                          : bulan ke 13-15
         16.    Penemuan bahasa                                      : bulan ke 18-24
20. 4 Penemuan-penemuan penting dalam perkembang kejiwaan :
         1.      Penemuan dunia kebendaan dengan sifatnya yang tak tergantung pada manusia
         2.      Penemuan hidup sebagai suatu persoalan
         3.      Penemuan kebathinan sendiri
         4.      Penemuan sekse lain sebagai sesuatu yang menarik
      Ada pula penemuan-penemuan penting lainnya yaitu penemuan alat kerja, yang berhubungan erat dengan penemuan hubungan-hubungan mekanis yang merupakan sifat-sifat obyek.      
21. Penemuan benda-benda dalam sifat-sifat khusus.
       Primer adalah pengalaman hidup tidak hanya berpadu pada diri sendiri saja tetapi hidup juga berarti pula dalam dunia. Dunia sebagai objek tempat kita mengarahkan pengetahuan kita.
     Sejak minggu-minggu pertama anak manusia berhubungan dengan dunia dalam dua macam hubungan yaitu : “bersatu dengan” dan “lain dari pada “dunia itu”.
22. Suatu makhluk yang menolak segala sesuatu yang tak ingin dimasukkan dalam pribadinya dan yang tak ingin dimasukkannya pada dirinya yang menuntut apa yang hendak dijadikan kepunyaannya.
23. Penemuan bathin diri sendiri yaitu anak pertama kali belajar berkepalan dengan bathinnya sendiri sebagai sesuatu yang ada dalam bathinnya.
     Dalam masa antara umur 10 dan 14 tahun tersebut periode pueral, anak menempatkan dirinya dengan sangat positif, menganggap dirinya sanggup mencapai prestasi tertinggi. Kemudian dalam pubertas kultur yaitu suatu periode konfentasi dengan dirinya sendiri dan dia mengalami sesuatu yang baru.
    Suatu pubertas kultur adalah persoalan pendidikan dalam tiap masyarakat yang untuk sebagian besar tidak dikuasai oleh tradisi atau ortodoksi yang diktatorial
24. Barang siapa menemukan dirinya sendiri dalam sifat yang khusus tidak mudah terlepas dari pandangannya terhadap orang-orang lain karena mereka sama dengan kita mengalami suatu mabuk penemuan mudah dimasuki peasaan “kesamaan jiwa” dan persahabatan-persahabatan besar disini menemui suatu tempat yang subur.
25. Rangkuman pubertas
   Masa pubertas adalah masa yang negatif. Kecakapan anak tampak berkurang. Kepandaian dan kecakapannya tidak tegas, sikapnya lambat dan tingkah lakunya sering tidak sopan. Masa prapubertas melakukan perbuatan yang berlawanan yang biasanya dipandang baik.
     Masa pubertas adalah masa bangkitnya kepribadian, minat terhadp dunia luar bersifat subyektif ditujukan kedalam perkembangan pribadi sendiri menjadi unsur yang penting dalam kehidupannya.
         Sifat-sifat yang nampak pada anak dimasa pubertas
1. Anak ingin menyusun pendirian baru. Pada saat mencari kebenaran itu segala sesuatu tidak berketentuan.
2. keseimbangan bahtin terganggu dan oleh karena itu sikap dan perbuatan anak tidak tenang. Dalam pada itu sifat-sifat itu tidak sama kuatnya pada semua anak
Masa pubertas dinamakan juga Strum-und Drang periode : masa pencarian dan mendapatkan, putus asa dan bangga, masa perjuangan untuk memberi kedudukan kepada dirinya sendiri, pendek kata yang penuh dengan pertentangan bathin
26. Beberapa peringatan :
     1. Dalam mempelajari pembagian masa, kita harus selalu ingat, bahwa diantara masa satu dan masa lainnya sering tidak tampak batas-batasnya  yang terang.anak yang menilik umurnya sudah pemuda, akan tetapi susunan jiwanya sama dengan anak kecil. Peristiwa-peristiwa begitu dinamakan  infatilisme ( tetap bertabiat anak-anak). Orang yang menurut umurnya sudah lama melewati masa andolesensi, akan tetapi ia tetap bersifat sebagai anak dimasa pubertas. Itu dinamakan puberlisme.
      2. Usia 45-50 tahun dinamakan usia yang berbahaya. Masa tua menunjukkan kemunduran-kemunduran. Pertama-tama kekuatan mendengar dan melihat berkurang. Juga ingatan dan kekuatan memusatkan pikiran. Sering-sering emosionalitas bertambah 9 perasaan mudah tersinggung) dan tampak juga kegemaran merenungkan sikap yang lampau. 

ISLAM DAN HIGEMONI BUDAYA BARAT


ISLAM DAN HIGEMONI BUDAYA BARAT

PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Peredaran waktu merupakan kesempatan yang diberikan Allah Rabb semesta alam kepada makluknya untuk memperbaiki keadaan kearah yang lebih baik. Demikian seharusnya umat Islam berusaha untuk mencapainya dengan berjuang sepenuh daya dan upaya. Berbagai perjuangan keras telah dirintis oleh tokoh-tokoh pembaharu Islam untuk mencapai kemuliaan Islam di atas dunia ini.
 Namun sungguh disayangkan, akhir-akhir ini sejumlah sarjana dan tokoh politik di kalangan umat Muslim secara terang-terangan mau bekerjasama dengan para orientalis Kristen dan Yahudi untuk ikut-ikutan menyatakan bahwa ajaran-ajaran al-Qur'an dan Hadits sudah kuno dan tidak relevan dengan zaman modern saat ini.[1] Mereka berupaya menjaring generasi Muslim dengan berbagai gerakan pemikiran, yang berkedok pembaharuan guna memisahkan Islam dari kehidupan sosial ummat ataupun mengkompromikan Islam dengan permasalahan kontemporer.  
Dengan menyadari adanya bahaya semacam yang tersebut di atas, perlu bagi kita untuk memperkokoh keyakinan, bahwa Islam merupakan tatanan yang komprehensif, yang melingkupi segala aspek kehidupan dunia dan ukhrawi; merupakan petunjuk atau jalan yang harus ditapaki manusia seluruhnya. Jalan tersebut telah dilengkapi dengan rambu-rambu syari'at yang sekiranya dapat diikuti manusia, niscaya mereka menjadi manusia-manusia yang selamat. Karena petunjuk itu datang dari wahyu Tuhan dan dapat diandalkan, maka ia menampilkan nilai-nilai moral yang ‘mutlak’ dan secara ‘tegas’ menentang elektisisme,[2] perubahan-perubahan dan relativitas moral.[3] 
Kejelasan Islam sebagai sumber konsep yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Terbukti pada abad-abad kejayaanya, Islam telah mengangkat martabat kaum kafir Arab sehingga mereka tampil sebagai bangsa reformator yang mewarnai dunia dengan tatanan kehidupan yang harmonis. Hal demikian menepis anggapan bahwa “Bangsa Arab yang telah membesarkan Islam”, akan tetapi sebenarnya Islam-lah yang membesarkan penganutnya.
1.      Islam Sebagai Sumber Hukum
Tegaknya supremasi hukum merupakan sebuah kebutuhan dalam kehidupan manusia, karena manusia membutuhkan jaminan keamanan dan ketenteraman hidup. Dan umat Islam meyakini  bahwa ketentuan hukum datangnya hanya dari Allah dan hanya Dia-lah yang berhak menetapkan hukum, sebagaimana tercantum dalam  al-Qur'an (Q.S: al-Maidah: 1,50):

... إن الله يحكم مايريد

Artinya: “Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.”

أفحكم الجهلية يبغون  ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون

Artinya: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?

Dalam hal ini hukum-hukum Allah disebut juga syari'at Allah atau syari'at Islam, diantaranya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
a.       Hukum/syari'at Islam bersumber dari wahyu Allah yang disampaikan oleh Rasulullah baik berupa al-Qur'an atau Sunnah.
b.      Hukum/syari'at Islam mengajarkan tentang persamaan hukum bagi setiap manusia, dan yang membedakan derajat manusia di hadapan Allah adalah keyakinan dan taqwanya.
c.       Hukum/syari'at Islam bersifat universal, mencakup semua aspek kehidupan manusia.
d.      Hukum yang menyangkut aspek aqidah, akhlak, dan ibadah mahdlah, ketentuannya bersifat baku, jelas, detail, dan final.
e.       Hukum/syari'at Allah mempunyai sanksi di dunia maupun di akhirat, sehingga bila pelanggar hukum di dunia belum menerima sanksi/balasan, maka di akhirat kelak pasti akan menerimanya. Sebagaimana yang termaktub dalam Q.S an-Nisa:123; al-Zalzalah: 7-8.[4]
2.      Islam dan Kekuasaan
Bagaimanapun cara untuk memberikan definisi terhadap politik, satu hal yang tidak dapat dingkari bahwa politik identik dengan kekuasaan dan cara penggunaan kekuasaaan. Sehingga dalam pengertian sehari-hari, politik dihubungkan dengan cara dan proses pengelolaan pemerintahan.[5]
Seorang Muslim harus memainkan peran dalam bidang ini, karena mengingat perlunya peranan politik sebagaimana yang mengatur dan menetukan arah kehidupan orang banyak, dimanapun kita berada tentunya ada peraturan yang harus ditaati seperti halnya negara. Agar kehidupan dunia sejalan dengan ajaran-ajaran Tuhan, dituntut adanya peran politikus yang memegang dakwah, sehingga terlahir aturan yang tidak menyesatkan, menjungkirbalikkan kebenaran, dan mengelabuhi masyarakat. Dengan kata lain, politik difungsikan sebagai alat dakwah, yang selanjutnya untuk mencapai tujuan sesungguhnya yakni pengabdian kepada Allah. Demikian kejelasan dalam Q.S al-An’am: 162.

قل إن الصلاتى ونسكى ومحياي ومماتى لله رب العلمين

Artinya: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam’.”

Dalil tersebut secara jelas menolak sekularisasi, karena seorang Muslim percaya terhadap Hari Akhir dan akan mempertanggungjawabkan baik-buruk amal yang telah dilakukannya selama hidup di dunia.
3.      Islam dan Keadilan Sosial
Komitmen seorang Muslim bukan hanya terbatas pada hubungan vertikal dengan Allah (حبل من الله), akan tetapi juga ia harus ingat kepada hubungan horizontalnya kepada sesama (حبل من الناس)  pun harus harmonis. Dalam kerangka hubungan dengan sesama inilah seorang Muslim harus dapat berbuat adil. Potret besar keadilan sosial dalam Islam adalah ketika negara-kota Madinah yang dibangun Rasulullah, yang mana mampu menaungi keragaman etnik dan agama yang ada pada saat itu. Perwujudan hal semacam itu tidak lain adalah karena Islam mengajarkan nilai-nilai persamaan dan persaudaraan (ukhuwah) – tanpa barometer yang bersifat materialistis keduniaan.
Ketidakadilan sosial berarti membentuk tembok pemisah antara yang berkelebihan dan yang berkekurangan; membuka padang permusuhan antara yang kuat dan yang lemah. Untuk mengantisipasi dan mengatasi hal-hal tersebut, dalam Islam dikenal adanya kewajiban zakat pada tiap-tiap wajib zakat  yang memenuhi syarat.
4.      Islam dan Kebudayaan
Dalam hubungannya dengan kebudayaan, Islam memegang peranan yang sangat menentukan bagi terbentuknya kebudayaan ummat. Karena kebudayaan itu sendiri adalah manifestasi dan perwujudan segala aktivitas manusia sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Atau dengan kata lain, kebudayaan merupakan perwujudan dari ide, pemikiran, gagasan, nilai-nilai, norma-norma dalam bentuk tindakan dan karya.[6]  Perwujudan itu sangat tercermin dari adanya penghargaan terhadap waktu, ilmu dan tekhnologi, serta etos kerja.
a.       Penghargaan terhadap waktu
Penegasan agar seorang Muslim dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, bila tidak ia akan menuai kerugian. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur'an, Q.S. al-Ashr: 1-3:

إن الإنسان لفىحصر إلا الذين أمن وعمل الصالحة وتوى صوب الحق وتوى صوب الصبر
Artinya: “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat-menasihati supay mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.”

Sehingga jelas dalam Islam, adanya tuntutan untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin karena waktu tidak akan kembali. Selain itu juga adanya kejelasan untuk saling nasihat-menasihati dalam kebaikan.
b.      Ilmu dan Tekhnologi (Iptek)
Adalah merupakan kewajiban atas tiap-tiap Muslim dan Muslimat untuk menuntut ilmu, mengingat betapa dibutuhkannya ilmu bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Islam juga menempatkan orang-orang yang berilmu kepada derajat yang lebih tinggi, tentunya dengan pondasi Iman dan Taqwa (Imtaq).
Selain itu al-Qur'an berisi petunujuk berupa informasi agar manusia melakukan penelitian, sehingga dapat menemukan rahasia-rahasia Iptek. Kita memang tidak boleh menjatuhkan klaim penuh bahwa al-Qur'an adalah Kitab Iptek, namun kita juga tidak bisa menutup mata terhadap adanya isyarat/petunjuk ke arah itu.
c.       Etos kerja
Manusia adalah makhluk hidup, tak terkecuali makhluk hidup lainnya membutuhkan ‘konsumsi’ demi kelangsungan hidupnya. Manusia dan hewan adalah makhluk yang dapat bergerak dan berpindah-pindah untuk memenuhi tuntutan konsumsi tersebut, berbeda halnya dengan tumbuhan yang bersifat permanen. Perbedaan manusia dan hewan terletak pada penggunaan rasio dan akal budinya. Manusia dituntut untuk mengupayakan pengadaan kebutuhannya baik yang telah tersedia secara alami maupun yang diolah/ berproses, yang pada tujuan akhirnya adalah menunjang pengabdian manusia terhadap Allah. Islam menekankan tentang hal tersebut sebagaimana dalam Q.S. al-Jum’ah: 10; al-Qashash: 77:
فإذاقضيت الصلوة فانتشروا فىالأرض وابتغوامن فضل الله وذكرواالله كثيرا لعلمكم تفلحون

Artinya: “Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

وابتغ فيمآءاتـك الله الدارالأخرة  ولاتنس نصيبك من الدنيا  وأحسن كمآ أحسن الله إليك  ولا تبغ الفساد فى الأرض  إن الله لا يحب المفسدين

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugrerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.”

Tidak dibenarkan jika seorang muslim pasif dalam berusaha atau bekerja untuk dunianya karena semata-mata mengharap kebaikan akhirat, namun semangat dituntut untuk mencapai dunia sekaligus akhirat.

Demikian sempurnanya ajaran Islam mencakup segala aspek dengan tujuan tercapainya kemaslahatan baik di dunia maupun di akhirat, terlebih lagi bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu; jalan mana yang lebih baik bagi umat manusia.

PERMASALAHAN
Seiring perputaran bumi, manusia telah dapat menunjukkan diri sebagai makhluk terbaik dengan akal pikirannya. Pemikiran manusia dari masa ke masa semakin berkembang, manusia menerapkan pemikiran-pemikiran logis, matang dan  penuh dengan hipotesis-hipotesis. Perkembangan ini ditandai dengan tercapainya kemajuan yang berkelanjutan dalam berbagai bidang. Boleh dikata manusia telah semakin menemukan jati dirinya sebagai makhluk terbaik yang pernah ada.
Kemajuan yang telah dicapai manusia hendaknya semakin memperkuat kepercayaan manusia akan betapa besar Anugerah Allah terhadap kehidupan manusia itu sendiri. Namun dampak yang terlihat bukan hanya positif. Terlebih lagi, dampak negatif pun merebak dalam kehidupan umat manusia. Di satu sisi segelintir manusia mendapat kemudahan dan kenyamanan dengan apa yang telah diraihnya. Sedang di sisi lainnya, kebanyakan manusia semakin merasa kesulitan, dengan kata lain  sistem yang terlahir adalah hanya memperkuat kaum yang telah kuat dan memperlemah kaum yang lemah (kapitalis) dan memandang hanya dari segi materi (sosialis).
Anehnya, bukti kegagalan Barat tersebut direka seolah-olah tidak berarti sama sekali dan tidak nampak. Karena kemajuan yang umumnya telah diraih dunia Barat akhir-akhir ini sangat menyilaukan belahan dunia Timur (termasuk Indonesia) dan selanjutnya terprovokasi sehingga tanpa ragu mengadopsi pemikiran-pemikiran Barat sampai kepada nilai-nilai budaya Barat, yang materialistis dan jelas bertentangan dengan Islam. Sehingga muncul permasalahan: “Mengapa umat Islam mencoba mengkompromikan, bahkan meninggalkan identitasnya sebagai umat Islam?
Hal inilah yang sekiranya akan penulis utarakan guna mendapatkan penyebab/faktor penghambat kemajuan Islam, yang terlebih lagi merupakan tantangan serius bagi generasi Islam sekarang dalam menyongsong era kebangkitan Islam. Baik faktor internal yang membahayakan dan menghalangi kita untuk mengetahui dan menghadapi tantangan eksternal.

PEMBAHASAN
Peradaban Islam seakan terkubur abad akhir-akhir ini setelah mendominasi lebih dari tiga belas abad silam. Kemuduran Islam tidak lepas dari interfensi asing (non-Islam) selama berabad-abad di bawah kolonialisme Barat menyusul atas keruntuhan Kepemimpinan Kaum Muslimin (kekhalifahan). Kendati demikian, Islam telah menunjukkan eksistensinya sebagai kebenaran. Sekalipun  Islam tidak mendominasi, namun Islam tetap diagungkan oleh penganutnya. Hal inilah yang mengakibatkan musuh-musuh Islam merasa perlu ‘memberantas-tuntas’ Islam. Sampai kepada saat ini berbagai upaya pihak-pihak tersebut (anti-Islam) melancarkan fitnah terhadap Islam yang berupa serangan “fisik” maupun “non-fisik”.
Secara umum penyebab mundurnya peradaban Islam tidak terlepas dari dua faktor, yakni faktor internal umat Islam sendiri dan terlebih lagi faktor eksternal yang sangat berambisi terhadap kemunduran Islam.
A.    Faktor Internal Umat Islam
Faktor internal umat Islam yang melemahkan Islam itu sendiri adalah meliputi aspek identitas, referensi, keterbelakangan, keadilan sosial, isu-isu perempuan, kepemerintahan, dan masalah keimanan dan akhlak.[7]
Diantara tantangan tersebut adalah:


B.     Faktor Eksternal 
 



Firman Allah dalam surat al-Insan: 24:
ولا تُطعْ منهم إثما اوكفورا
Artinya: “Jangan kamu ikuti orang yang berdosa dan orang kafir di antara mereka.

Sudah barang tentu, baik tantangan internal maupun tantangan eksternal harus dipandang sebagai suatu yang saling berkaitan. Terlebih lagi, selama ini masalah internal inilah yang dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam.  Karena itu antisipasi dan pemecahannya harus bersifat konprehensif, integral, dan melalui pendekatan menyeluruh. Langkah penentu, yang perlu sekali dan mendesak penyelesaiannya adalah masalah penuntasan terhadap hambatan internal ummat, mengingat tanpa penyelesaian masalah internal barang mustahil kita dapat menangani masalah eksternal. Karena secara tidak langsung masalah internal akan mengaburkan ancaman eksternal. Artinya, generasi Muslim sekarang ini berkewajiban menyadari, mengenal, bahkan menanggulangi tantangan internal agamanya. Hingga selanjutnya siap untuk berhadapan dan memerangi tantangan eksternal bagi kejayaan Islam. Amien!


[1] Maryam Jamilah, Islam dan Orientalisme, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1997),
[2] Electicism adalah ajaran, kecenderungan atau kegiatan yang mencampuradukkan atau mengacaukan berbagai macam ajaran-ajaran teologik. Ibid.
[3] Ibid.
[4] Abdul Munir Mulkhan, Ideologisasi Gerakan Dakwah, (Yogyakarta: Sipress, 1996),
[5] Ibid.
[6] Ibid.
[7] Fathi Yakan, Kebangkitan Islam, (Bandung: PT. Syaamil Cipta Media, 2004),

Problematika Remaja (Islam, Remaja, Pornografi dan Porno Aksi)


’PROBLEMATIKA REMAJA’
(Islam, Remaja, Pornografi dan Pornoaksi)
Oleh : Moh. Fadholi

A. Pengaruh Budaya Barat (Western Culture) terhadap Remaja.
Memperhatikan apa yang  terjadi disekeliling kita akhir-akhir ini, begitu banyaknya remaja yang sudah terpengruh oleh kebudayaan-kebudayaan Barat yang dapat merusak mental dan keperibadian diri sebagai umat yang beragama.  Sudah sepantasnya kita umat islam menyiman keperihatinan yang begitu memdalam, karna sudah begitu banyak umat islam yang terpengaruh oleh kebudayaan barat yang dapat merusak keimanan. Seperti gaya berpakaian mereka yang tidak segan-segan membuka atau memamerkan lekuk-lekuk tubuh mereka, tontonan-tontonan yang tidak mendidik dan kesemuanya ini sudah menjangkit dikalangan umat islam.
Masyarakat modern yang serba kompleks sebagai produk kemajuan teknologi, mekanisasi, industrialisasi dan urbanisasi memunculkan banyak masalah sosial. Maka usaha adaptasi atau penyesuaian diri terhadap masyarakat modern yang sangat kompleks itu menjadi tidak mudah. Kesulitan menghadapi adaptasi dan adjustment menyebabkan banyak kebimbangan, kebingungan, kecemasan dan komflik, baik komflik eksternal yang terbuka,  maupun yang internal dalam batin sendiri  yang tersembunyi dan tertutup sifatnya. Sebagai dampaknya orang lalu mengembangkan pola tingkah-laku menyimpang dari norma-norma umum, dengan jalan berbuat semau sendiri demi keuntungan sendiri dan kepentingan pribadi, kemudian mengganggu dan mjerugikan orang lain.
Pada zaman modern ini bertemulah banyak kebudayaan sebagai hasil dari makin akramnya komunikasi daerah, nasional dan internasional. Keluluhan bermacam-macam budaya itu dapat berlangsung lancar dan lembut, akan tetapi tidak jarang proses melalui komflik personal dan sosial yang hebat. Banyak peribadi yang mengalami gangguan jiwani, dan muncul komflik budaya yang ditandai dengan keresahan sosial serta ketidak rukunan kelompok-kelompok sosial.
Situasi sosial demikian ini mengkondisioner timbulnya banyak prilaku patologis atau sosiopatik yang menyiompang dari pola-pola umum. Mereka bertingkah laku sweenaknya sendiri tampa mengindahkan kepentingan orang lain, akibatnya banyaklah muncul masalah sosial yang disebut juga sebagai tingkah sosiopatik, deviasi sosial, disorganisasi sosial, disintegrasi sosial dan deferensiasi sosial. Dengan banyaknya masalah yang timbul ini maka terjadilah deviasi situasional kumulatif, misalnya dalam bentuk “kebudayaan” deviasi seksual yang dipicu dengan adanya pornografi dan pornoaksi.
Di sini penulis akan mencoba sedikit mengulas tentang pornoaksi dan ponografi. Porno (cabul) adalah segala hal (Grafik, aksi, suara) yang mampu menaikan nafsu birahi seseorang yang berkenaan dengannya. Jadi porno merupakan salah satu stimulasi manusia. Kita mengenal hawa nafsu dengan berbagai bentuk, nafsu sex, nafsu makan, nafsu minum, nafsu amarah dan nafsu-nafsu lainnya. Nafsu merupakan salah satu sifat kodrati yang dimiliki makhluk hidup.

B. Islam dan Kebudayaan

Dalam hubungannya dengan kebudayaan, Islam memegang peranan yang sangat menentukan bagi terbentuknya kebudayaan ummat. Karena kebudayaan itu sendiri adalah manifestasi dan perwujudan segala aktivitas manusia sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Atau dengan kata lain, kebudayaan merupakan perwujudan dari ide, pemikiran, gagasan, nilai-nilai, norma-norma dalam bentuk tindakan dan karya.  Perwujudan itu sangat tercermin dari adanya penghargaan terhadap waktu, ilmu dan tekhnologi, serta etos kerja.
Kejelasan Islam sebagai sumber konsep yang tidak diragukan lagi kebenarannya. Terbukti pada abad-abad kejayaanya, Islam telah mengangkat martabat kaum kafir Arab sehingga mereka tampil sebagai bangsa reformator yang mewarnai dunia dengan tatanan kehidupan yang harmonis. Hal demikian menepis anggapan bahwa “Bangsa Arab yang telah membesarkan Islam”, akan tetapi sebenarnya Islam-lah yang membesarkan penganutnya.
Erat kaitannya dengan itu, selama paling tidak dalam masa dua dasawarsa
terakhir, sebagaimana ditulis Azra (1999: 216-228), telah terjadi
peningkatan yang cukup signifikan dalam penerbitan buku-buku Islam dalam
berbagai disiplin, baik karya asli intelektual Indonesia maupun yang
berasal dari penerjemahan karya asing; muslim dan nonmuslim. Kegiatan itu
berdampak dan sekaligus menunjukkan beragamnya wacana intelektual keislaman
yang berkembang di Indonesia.
Berdasarkan paparan tersebut, secara teoretis Islam Indonesia pada milenium
ketiga akan lebih menampakkan wajah intelektual ketimbang wataknya yang
ideologis. Sebagai fenomena intelektual, Islam tidak lagi dijadikan sebagai
pemersatu emosional atau alat pengerah massa sebagaimana ketika ia menjadi
sebuah ideologi, namun ia lebih diarahkan kepada pengembangan wacana dan
dialog untuk menemukan kebenaran yang sebenarnya dalam rangka menyebarkan
rahmat bagi sekalian alam. Pada perspektif ini, hal-hal yang menunjukkan
sikap intelektualitas seperti penalaran dan kedewasaan berpikir akan
menjadi karakteristik yang paling kental. Sebaliknya, sikap emosional,
eksklusif, mau menang sendiri serta tidak mau mengakui kebenaran pendapat
yang lain merupakan hal yang dijauhi dan dihindari.
ITULAH hipotesis di atas kertas. Di lapangan dan kehidupan konkret "Islam"
(pakai tanda kutip, karena sebagaimana akan dijelaskan adalah bukan Islam
yang sebenarnya) menggambarkan hal yang lain. Dalam tataran praktik sebagai
umat Islam Indonesia, Islam masih sering dilekatkan dengan ideologi atau
persoalan-persoalan politik praktis, bahkan oleh sebagian kelompok
dijadikan justifikasi untuk melakukan kekerasan. Pada satu sisi, meskipun
pada dekade terakhir menuju milenium ketiga Islam Indonesia ditandai dengan
intensitas nuansa intelektual, yang tentunya ramah dan menganut pluralisme,
pada sisi yang lain agama tersebut juga dikotori dengan munculnya konflik
dan kekerasan yang dimuati dengan isu-isu keagamaan.
Dengan keterlibatan semua--yang mayoritas beragama Islam, keyakinan masih
begitu tebal bahwa Islam Indonesia di pergantian abad menuju milenium
ketiga akan menampakkan wajahnya yang ramah. Mainstream umat Islam akan
lebih condong mengembangkan Islam yang berwatak intelektual yang penuh
keterbukaan dan dialog. Karena itu, setiap ada kegarangan dan kemarahan
pada sebagian umatnya sehingga mengancam eksistensi kelompok agama lain,
maka hal itu tidak akan pernah menjadi fenomena yang umum karena itu
merupakan distorsi, bukan berasal dari ajaran Islam dan bukan kecenderungan
mayoritas umat. Mereka pasti menolaknya sampai kapan pun. Insya Allah.
Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang berinteraksi dalam kawasan yang ditetapkan dan dibimbing oleh satu budaya yang dikongsi bersama. Perubahan sosial ialah sebuah transformasi budaya dan institusi sosial yang terhasil dalam jangka masa yang berterusan dan menghasilkan kesan positif dan negatif.  Proses ini tidak semestinya berlaku dalam kadar dan kepantasan yang sama atau dengan tenaga dan daya yang sama.  Namun proses ini tidak dapat dielakkan, adakala dilakukan secara sengaja tetapi selalunya proes perubahan ini berlaku tanpa diduga atau dirancang.  Dalam buku ini kita melihat perubahan sosial yang terhasil akibat proses pembangunan dan globalisasi.  Pengantarabangsaan pemilikan dan pengawalan modal serta pengglobalisasian ekonomi yang mengiringnya adalah perubahan paling signifikan yang berlaku dalam beberapa dekad yang lepas.  Dalam proses perubahan dan pembangunan sesebuah negara, masyarakatnya dijangka akan menikmati faedah yang datang bersama proses tersebut.  Walau bagaimanapun disebabkan faktor tertentu ada yang tercicir daripada arus perdana tetapi ini tidak bermakna mereka disisihkan sepenuhnya kerana mereka berada di sisi arus tersebut 

C.    Islam dan Pornografi dan Pornoaksi

Berbicara tentang pornografi dan pornoaksi maka kita tidak lepas dengan pembicaraan tentang hawa nafsu. Dalam islam, hawa nafsu memang sudah menjadi perhatian khusus. Hawa nafsu ini  memang diatur dan dijelaskan secara baik mengingat hawa nafsu ini bisa menimbulkan dampak yang dapat merugikan diri sendiri   maupun merugikan orang lain. Yang sangat fatal adalah hawa nafsu yang dapat merugikan orang lain, salah satunya adalah nafsu sex  liar yang mampu menimbulkan pemerkosaan (sex sepihak). Kembali lagi, porno merupakan stimulasi ampuh yang menaikan nafsu sex (birahi) tadi. Nafsu timbul dari dalam diri manusia. Yang mampu mengaturpun hanya manusia itu sendiri.
Jadi jelas Islam sangat tidak suka dengan memasyarakatnya kebudayaan pornografi dan pornoaksi dalam kehidupan islam itu sendiri, selain itu dengan beredarnya pornografi dan pornoaksi dapat merusak mental-mental pemuda kita yang seharusnya menjadi tulangpunggung pemegang estaveta perjuangan dalam menyebarkan syi’ar islam.
Dan yang lebih memprihatinkan kebanyakan atau bisa dikatakan keseluruhan yang menjadi objeknya adalah para wanita yang seharusnya kita jaga kehormatannya bukan malah menjatuhkan harga diri mereka yang seharusnya patut untuk dimuliakan.
Mungkin inilah potret realita dari bangsa kita sebagai negara ketiga ketika pendidikan masih harus masuk ruang tunggu dan terkalahkan oleh politik dan ekonomi. Sehingga jika pada saat inipun pada era yang katakanlah sudah [menyerap] modern, ternyata masih banyak yang bersikap puritan terhadap pornografi, masih banyak yang bersikap hipokrit terhadap sekularitas, masih banyak yang menggunakan superfisial terhadap tubuh. bahkan puritanisme, hipokrisi, dan superfisial itupun juga menghinggapi mereka, kaum intelektual yang katanya sudah tercerahkan oleh sekolah dan kampus, baik mereka itu seniman, komikus, kurator, profesor, akademisi, dll.

Lihat Juga : 
Makalah Psikologi Pendidikan : Pengaruh Guru Dalam Pendidikan
Makalah Psikologi Perkembangan : Dampak TV Terhadap Remaja